Pergi merantau ke kampung orang, Perasaan ingin hidup mandiri dan tidak mau menyusahkan orang tua, itulah yang aku inginkan.Kehidupan metropolitan dan dunia kampus yang menantang kadang membuat diri ini ingin pulang dan berada disisi Ibu. Aku harus menjalankan amanat ku dengan baik dan menjaga amanat orang tua untuk terus belajar dan mencari ilmu, mereka berjuang untuk anaknya agar tetap hidup di kampung orang, mereka mengeluarkan keringatnya, mereka kerja banting tulang untuk kehidupan anaknya. Lalu, apa yang aku bisa berikan untuk mereka. Kuliah itu amanat dari mereka, mereka berjuang untuk kita bisa bertahan disini. Gaya hidup hedonis???Hura – hura ???nongkrong di mall – mall??? Hang out ???, itukah yang kalian berikan untuk mereka. Ketika uang kita habis dan mintalagi sama orang tua, pernahkah berfikir bagaimana keadaan orang tua kitadisana? Bagaimana kondisi keuangan keluarga kita ? Masih ada kah uang untuk makan sehari – hari dirumah ? apakah kita tahu kondisi keluarga kita saat kita meminta uang kepada mereka ?. Lalu, apa yang bisa kita berikan ?.Renungkanlah dan berhentilah sejenak dari kesenangan duniawi.Bertafakur, muhasabah diri, dan merubah pola hidup kita itu yang perlu kita lakukan untuk kehidupan yang lebih baik. Yaa Alloh, kuatkanlah kami disini. Berikanlah kemudahan dan kelancaran dalam menjalankan segala aktifitas kami.Tunjukanlah kepada kami jalan yang Engkau Ridloi.Tanamkanlah dalam diri kami semangat untuk berjuang di JalanMU.
Oleh :Arina M Husna
FakultasPsikologi UIN SGD BDG
Terik matahari menyelimuti bumi
Langkahku menuju kampus yang sudah lama tak kusinggahi
Pemandangan tak indah kini di pelupuk mataku
Pemandangan tak indah kini di depan mataku
Jalan beraspal kini jadi jalan berlumpur
Semilir angin yang menggerakan dedaunan
Dikampus itu telah tiada
Kini angin itu hanya menggerakkan udara kotor
Yang mengusik hidung dan mata kami
Hujan turun membasahi bumi
Tetesan air langit itu membasahi kampusku
Membuat kami enggan memasukinya
Tak ada lagi jalan yang bersih dari tanah – tanah yang becek
Hati, jiwa, raga kami enggan memasuki kampus itu
Tak ada lagi jalan yang bersih menuju kampusku
Kampusku yang dulu penuh dengan pohon – pohon rindang
Kini telah tiada
Meskipun rindangnya kampusku tak serindang kampus yang lain
Kini aku tak mengenal kampusku
*Puisi ini sudah di post di http://suakaonline.com
FakultasPsikologi UIN SGD BDG
Terik matahari menyelimuti bumi
Langkahku menuju kampus yang sudah lama tak kusinggahi
Pemandangan tak indah kini di pelupuk mataku
Pemandangan tak indah kini di depan mataku
Jalan beraspal kini jadi jalan berlumpur
Semilir angin yang menggerakan dedaunan
Dikampus itu telah tiada
Kini angin itu hanya menggerakkan udara kotor
Yang mengusik hidung dan mata kami
Hujan turun membasahi bumi
Tetesan air langit itu membasahi kampusku
Membuat kami enggan memasukinya
Tak ada lagi jalan yang bersih dari tanah – tanah yang becek
Hati, jiwa, raga kami enggan memasuki kampus itu
Tak ada lagi jalan yang bersih menuju kampusku
Kampusku yang dulu penuh dengan pohon – pohon rindang
Kini telah tiada
Meskipun rindangnya kampusku tak serindang kampus yang lain
Kini aku tak mengenal kampusku
*Puisi ini sudah di post di http://suakaonline.com
Tiga tahun saya belajar disalah satu sekolah negeri di Tasikmalaya, ketika aku menginjak dunia putih-abu. Saya berangkat sekolah selalu dengan Angkot (Angkutan Umum) karena saya tidak bisa naik motor. Berangkat pagi - pagi sekitar pkl. 06.00 dari rumah karena lokasi sekolah cukup jauh, dari rumah harus ditempuh dengan 2 kali naik angkot. Kalau tidak berangkat pkl. 06.00 bisa jadi saya terlambat datang ke sekolah. Yaa namanya juga Angkot (Angkutan Umum) bukan milik sendiri jadi para supir suka nyari penumpang kesana-kemari, lirik sana - lirik situ yang membuat perjalanan begitu lama.
Pengalaman yang cukup menakutkan sekaligus memberikan pengalaman hidup ini selama bersekolah tiga tahun di SMA. Apa pengalaman itu ? Yaa pengalaman itu bertemu pencopet di angkot. Kenapa saya yakin dia/mereka itu pencopet, saking seringnya saya bertemu dan duduk dalam satu angkot itu cukup membuat saya yakin. Yang membuat saya yakin itu perilaku Si Pencopet di angkot. Pertama, setiap pencopet/rata - rata kebiasaan Si Pencopet suka membawa tas besar
ataupun seperti tas ransel.
ataupun seperti tas ransel.
Waktu berlalu begitu cepat, tak terasa kini aku telah melewati 1 tahun tepat dimana aku berjuang untuk kuliah. Dan tahun ini aku berjuang kembali untuk mendapatkannya. Berusaha dan terus berusaha untuk menggapai impian, tak pantang menyerah dengan keadaan yang ada. Aku akan terus berjuang sampai Impian itu jadi kenyataan. Akhirnya, penantianku selama ini dan perjuanganku ini berlabuh di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung. Satu tahun berlalu, kini aku akan menjemput dan meraih kesuksesan. Menjadi seorang mahasiswi, aku harap jalan ini memberi petunjuk menuju perubahan yang aku inginkan. Menjadi agent of change, agent of social control, and agent of modernity. Inilah saatnya aku beraksi, membuktikan bahwa sesungguhnya keinginan aku untuk kuliah bukan untuk mengejar gengsi tapi benar - benar menjadi seorang mahasiswa yang mampu dipertanggungjawabkan. Aku akan menjaga amanah ini dan memperjuangkan semua yang telah mereka perjuangkan hingga aku bisa seperti ini.
Time is money (waktu adalah uang) mungkin itu anggapan sebagian orang - orang dilingkungan kita. Waktu adalah peluang,, yah waktu adalah peluang. Memanfaatkan peluang dari setiap waktu yang kita lalui. Peluang untuk melakukan Ibadah, Peluang untuk melakukan hal - hal yang terbaik dalam setiap detik. Uang bisa dicari, tapi waktu tidak bisa kembali seperti sedia kala. Detik demi detik, hari demi hari, tahun demi tahun kita lalui. Lalu, apa yang sudah kita lakukan dengan waktu yang sudah kita lalui ? Berleha - leha, bermalas - malas, itukah yang kita lakukan ? Mumpung masih muda nyantai aja lakh masih jauh koq ke masa tua. huft. Apakah kita masih berfikir seperti itu ? Masalah umur siapa yang tahu, hanya Alloh lah yang berkuasa dengan kejadian beberapa detik dari sekarang, akankah kita masih hidup beberapa detik kemudian, akankah kita masih bisa menghirup napas di esok hari. Besok adalah misteri bahkan beberapa jam yang akan kita lalui itu sebuah misteri kita tidak tahu apa yang akan terjadi setelah itu.
Niatkan hati yang tulus untuk mengharapkan RidhoNya. Langkahkan kaki menuju masa depan. Siapkan Jiwa dan Raga menghadapi tantangan. Jernihkan pikiran dan sucikan hati menuju cahayaNya. Berdo'a, berusaha, berikhtiar dan Tawakkal kepadaNya. Dengan cara itulah impian akan kita dapatkan. Berharap indah pada waktunya dan sesuai harapan. Berani mencoba itu lebih baik daripada diam sama sekali. Pantang menyerah dan terus maju, semangat untuk maju berarti semangat untuk hidup. Jalani hari dengan penuh senyuman dan kesabaran. Tancapkan gas dan berlarilah, gapai mimpi. Jangan cuma berharap tapi harus Bergerak untuk mencapai harapan itu. Jalanan lumpur dan berduri akan terasa ringan dibarengi dengan keikhlasan dalam menjalaninya. Semangat berjuang dijalanNya untuk kebenaran yang hakiki. Mampu bertahan dan melesat lebih tinggi dari apa yang kita harapkan.
Langganan:
Postingan (Atom)





- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact