Sabtu, 04 Oktober 2014 0 komentar

Mahasiswa Tingkat Akhir



Untaian kata itu belum mampu aku rangkai menjadi satu kesatuan sehingga tersusun indah dalam lembaran kertas putih yang dipenuhi dengan tinta hitam. Terlalu bising untuk terus dibicarakan tanpa dikerjakan, bertemu dengan setiap orang yang berusaha untuk menyusun semua itu menuju kesempurnaan. Satu persatu orang pun mulai meninggalkan dunianya, sibuk dengan apa yang menjadi tujuan akhir mereka di kampus. Deretan buku itu belum mampu mengilhamiku untuk mengisi lembaran kertas putih itu. Ku baca jendela dunia itu namun baru mampu menyadarkanku untuk terus menambah khazanah keilmuan.
Kata – kata itu seakan sulit untuk di padu padankan, padahal masalah – masalah sudah di depan mata meminta untuk diteliti dan dicari solusi. Mahasiswa tingkat akhir apalagi yang kau pikirkan selain memenuhi lembaran kertas putih itu menjadi sebuah karya yang bisa dinikmati oleh semua orang. Kegalauan yang melanda mahasiswa tingkat akhir itu sebetulnya, mau apa jadinya setelah mereka lulus ? sudahkan ilmu yang di dapat selama 8 smester ini siap untuk diamalkan ? sudahkah teori – teori itu siap untuk diaplikasihan dalam kehidupan ? sudahkah nilai – nilai itu berguna untuk mencari sesuap nasi dan menghidupi kehidupan keluargamu kelak ?
Hei mahasiswa tingkat akhir, tugasmu belum beres hanya dengan lulus pada sidang yang diuji oleh dosen – dosen yang mengujimu. Ujianmu diluar lebih banyak dan menuntutmu untuk menyelesaikan semua permasalahan itu. Mau tidak mau, suka tidak suka, gelar sarjana itu sudah melekat dalam tubuhmu. Akankah gelar itu menjamin untuk kehidupanmu kelak ?
0 komentar

Mengusik Keheningan



Dalam sepi masih ada canda
Dalam gelap masih ada cahaya
Dalam sedih masih ada tawa

Kerinduan akan keheningan
Kini duniaku yang baru begitu berbeda
Aku merindukkan keheningan
Bising dengan kata – kata
Gontai langkah kaki yang tak pernah berhenti
Luapan emosi yang meledak
Tepukan tangan yang selalu mewarnai
Keunikan setiap insan
Mewarnai duniaku hari ini

0 komentar

Diam dalam Sepi



Begitu menyiksaku
Deretan benda yang ada diruangan tak mampu menemaniku
Ku ingat orang – orang yang kucintai
Ku ingat orang – orang yang pernah singgah dalam kehidupanku
Entah di dunia mana aku sekarang
Dunia sepi itu begitu mencekam
Diam dalam keheningan
Tak ku sangka akan aku alami dunia seperti ini
Perasaan hati ini tak menentu arah
Akal pikiran mulai berimajinasi
Begitu asing untuk dilihat
Begitu sakit untuk dirasa
Dalam lamunan ku rasakan
Tak hentinya perasaan itu menyerangku
Arrrghh sungguh aku tak suka dengan keadaan ini
Adakah diujung sana yang mampu menemaniku ?

Kamis, 11 September 2014 0 komentar

Cerita Petani Lobak


Hamparan hijau itu pun di depan mata, tepat di depan rumah Pak Yusuf terlihat hamparan hijau yang luas, perkebunan wortel, lobak, dan teh. Cukup menyegarkan mata pagi itu, setelah berjalan jauh dari keramaian warga, akhirnya menemukan sebuah pemandangan bukti atas kekuasaanMu.
Bertemu dengan Pak Yusuf yang sedang melangkahkan kaki menuju rumahnya ditemani Sang Istri, ditangannya terlihat membawa lobak dan istrinya membawa kayu bakar. Derap langkah kakinya berhenti untuk menyapa, timana neng ? Ieu teh sareng mahasiswa tea. Muhun buu ti Bandung, serempak menjawab. Ieu atuh bilih bade nyandak kanggo sayureun, (sambil memberikan lobak yang dipegangnya), teu sawios pa mangga kanggo bapa (#modus #padahal mah). Akhirnya setelah modus berhasil dilakukan lobak pun berpindah tangan ke kita. Pak Yusuf pun menyuruh kita singgah ke rumahnya. 

Singkat cerita, kita menutuskan untuk singgah ke rumah Pak Yusuf dengan modus tersembunyi untuk mendapatkan wortel #eh. #hahaha seperti yang telah dijanjikan oleh Pak Yusuf, neng ameng atuh ka bumi diditu aya wortel kanggo sayureun. #hahaha
Sambutan hangat dari pasangan yang sudah berusia lanjut itu membuat kita terus bercengkrama dengan mereka. Pak Yusuf bercerita,
”Neng, kapungkur mah sakola teh nganggo sapatu tina kresek, teu kawas barudak zaman ayeuna sararae sapatuna, (istrinya menambahkan) kapungkur mah sakola teh sieun da ngalewatan kebon awi hungkul nu bala, kapungkur mah bade kasakola teh ragu – ragu bade sakola atawa henteu soalna ngalewatan jalan anu bala, ka sakola na ge teu ngabring ngan saorang dua orang, paling seueur ge tiluan, kadang ibu oge berangkat ka sakola nyalira. Yeuh neng kantong buku teh ku kantong kresek, kresek tilas obat tanaman dianggo kanggo buku, disimpena teh didieu (sabari nunjukkeun tonggong anu diselipkeun kana lancingana) berangkat ka sakola teh lamun tos beres ngobatan tanaman, nembe berangkat, jauh neng sakola zaman baheula mah, ngalewatan kebon awi hungkul. Teu siga zaman ayeuna barudak sakola”.
Cerita singkat tersebut menggambarkan bahwa, perjuangan zaman dulu untuk mencari ilmu itu sungguh berat dan susah. Berbanding terbalik dengan zaman sekarang ini banyak jalan, banyak tempat, dan banyak cara untuk mencari ilmu. Dan terkadang majlis ilmu yang mendekati kita, tapi kenapa rasa malas itu selalu hinggap yang membuat gontai langkah kaki ini kaku untuk berjalan menuju majlis ilmu itu. Mencari ilmu adalah kewajiban kita sebagai manusia, sebagai salah satu cara menghindari diri dari para penjajah dunia.
Warnasari, 25 Agustus 2014
Edisi KKN Tematik 2014
Rabu, 27 Agustus 2014 0 komentar

Dibalik Keindahan Alam Pangalengan




Hamparan hijau menjadi pemandangan setiap hari, dinginnya alam menyelimuti kami setiap hari, kabut di pagi hari mulai mencerahkan penglihatan kami, datangnya mentari menghangatkan tubuh kami. Itulah hamparan alam daerah Pangalengan

Pergi ke kebun dan memerah sapi adalah aktivitas rutin yang biasa mereka lakukan setiap hari. Menjadi buruh tani adalah profesi mayoritas warganya. Kurang lebih Rp 17.000 mereka dapatkan perhari dari buruh tani yang diberikan setiap 10 hari sekali. Tak terkecuali para peternak sapi yang mayoritasnya mereka memiliki sapi perah sendiri. Pergi ke kebun adalah pemandangan yang biasa anak – anak lihat setiap hari dari Aktivitas orang tua mereka dan warga sekitar Desa Warnasari. Perkebunan sayuran dari mulai tomat, sawi, cabai, kentang, bawang daun, kebun teh, dan ternak sapi perah menjadi salah satu aktivitas produktif dari masyarakat pangalengan. Para petani yang setiap hari bekerja keras untuk menanam dan memanen hasil kebunnya kemudian dijual kepada Bandar yang akan mendistribusikannya ke pasar, para petani menjualnya dengan harga yang murah. Aktifitas bertani para warga berlangsung dari pagi sampai dengan Dzuhur. Tidak hanya orang tua tapi anak – anaknya juga diajarkan untuk bertani dan lebih memilih untuk bertani daripada sekolah dengan alasan tidak punya uang.
Dari aktifitas tersebut lah terbangun mindset bahwa sekolah itu tidak penting dan bahkan tidak dijadikannya sebagai prioritas selain karena faktor ekonomi tapi karena dorongan dari orang tua terhadap anak – anaknya yang menyuruh mereka bertani daripada sekolah meskipun tidak semua warganya, tetapi pemikiran tradisional itu setidaknya masih mewarnai warga. Jika tidak bertani selepas bersekolah di tingkat SD ataupun SMP mereka menikah, usia pernikahan dini nya masih terbilang tinggi. Oleh karena itulah sekolah atau pesantren gratis pun masih sepi peserta didik, padahal SDM yang ada itu jika dimanfaatkan dan diarahkan dengan baik maka akan menjadi manusia unggul yang lahir dari keterbatasan.

Alhamdulillah sekarang di kampung tersebut telah berdiri sebuah pesantren dari mulai PAUD, RA, MI, MD, dan Mts, bahkan sudah ada rencana untuk membangun SMA. Keterbatasan fasilitas, guru, dan bahan ajar tidak menyurutkan semangat mereka bagi yang memilih mencari ilmu daripada bekerja & menikah sebelum waktunya. Jarak yang jauh pun menjadi salah satu alasan gurunya jarang hadir untuk mengajar selain mungkin ada alasan lain seperti gaji yang tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka, jadi salah satu guru disana memilih untuk mencari tambahan jam mengajar di sekolah atau pesantren lain untuk mencukupi kebutuhan ekonomi tersebut. Itulah sedikit gambaran corak profesi dan aktivitas warga di Desa Warnasari, Kecamatan Pangalengan, sependek pengetahuan saya setelah berinteraksi dan bersosialisasi dengan masyarakat setempat.

Kamis, 07 Agustus 2014 0 komentar

My Life, My Adventure

Hari ini tanggal 27 Juni 2014 aku menemukan sebuah kisah anak negeri di sebuah daerah yang bernama Pangheotan, nama yang cukup terdengar asing namun disana banyak anak negeri yang berjuang untuk bisa sekolah. 


Menempuh jarak ke sekolah beberapa kilometer dengan menghabiskan waktu yang cukup banyak. Tidak mengurungkan niat mereka untuk bersekolah. Jalanan lumpur disaat hujan turun sudah menjadi hal biasa, ketika pulang sekolah teriknya mentari siang hari menyengat tubuh mereka, ketika kelelahan itu datang mereka memilih untuk diam sejenak. Untuk dapat sekolah mereka harus berangkat jam 6 pagi, karena jalan yang mereka lalui itu melewati jalanan panjang dengan pemandangan indah nan hijau sepanjang jalan yaitu hamparan kebun teh yang menyejukkan mata. Terasa indah di depan mata ketika melihat hamparan hijau kebun teh, namun jika jalanan becek maka sepatu mereka dibuka dan berjalan tanpa alas kaki. Persis sekali ketika saya bersama teman saya melewati perkebunan teh itu kondisi jalannya berlumpur karena baru tersirami air hujan kemarin sore. Tak hanya satu atau dua orang yang setiap pagi pergi ke sekolah dengan menempuh jarak yang jauh tapi hampir semua anak yang sekolah di perkampungan itu harus menempuh jarak yang jauh, dan apabila pulangnya mereka harus bisa melawan panasnya terik mentari di siang hari. Pergi ke sekolah bersama – sama itu yang biasa mereka lakukan setiap hari, karena kalau sendiri - sendiri takut karena kiri kanan itu semuanya perkebunan jauh dari rumah – rumah warga dan bahkan jalanan yang mereka lalui itu cukup curam dan terjal.
Nak, mudah – mudahan semua perjuanganmu untuk mencari ilmu dapat menjadi bekal untukmu di kemudian hari, semoga semua perjuanganmu untuk mencari ilmu kelak akan menjadi pahala bagi kedua orang tuamu. Setiap tetesan keringat InsyaAllah akan menjadi ladang pahala bagi kalian, engkau anak negeri yang terus berjuang demi menjalani kehidupan.
Maka nikmat tuhanmu yang mana lagikah yang engkau dustakan ?
 
;