Sabtu, 04 Oktober 2014 0 komentar

Mengusik Keheningan



Dalam sepi masih ada canda
Dalam gelap masih ada cahaya
Dalam sedih masih ada tawa

Kerinduan akan keheningan
Kini duniaku yang baru begitu berbeda
Aku merindukkan keheningan
Bising dengan kata – kata
Gontai langkah kaki yang tak pernah berhenti
Luapan emosi yang meledak
Tepukan tangan yang selalu mewarnai
Keunikan setiap insan
Mewarnai duniaku hari ini

0 komentar

Diam dalam Sepi



Begitu menyiksaku
Deretan benda yang ada diruangan tak mampu menemaniku
Ku ingat orang – orang yang kucintai
Ku ingat orang – orang yang pernah singgah dalam kehidupanku
Entah di dunia mana aku sekarang
Dunia sepi itu begitu mencekam
Diam dalam keheningan
Tak ku sangka akan aku alami dunia seperti ini
Perasaan hati ini tak menentu arah
Akal pikiran mulai berimajinasi
Begitu asing untuk dilihat
Begitu sakit untuk dirasa
Dalam lamunan ku rasakan
Tak hentinya perasaan itu menyerangku
Arrrghh sungguh aku tak suka dengan keadaan ini
Adakah diujung sana yang mampu menemaniku ?

Kamis, 11 September 2014 0 komentar

Cerita Petani Lobak


Hamparan hijau itu pun di depan mata, tepat di depan rumah Pak Yusuf terlihat hamparan hijau yang luas, perkebunan wortel, lobak, dan teh. Cukup menyegarkan mata pagi itu, setelah berjalan jauh dari keramaian warga, akhirnya menemukan sebuah pemandangan bukti atas kekuasaanMu.
Bertemu dengan Pak Yusuf yang sedang melangkahkan kaki menuju rumahnya ditemani Sang Istri, ditangannya terlihat membawa lobak dan istrinya membawa kayu bakar. Derap langkah kakinya berhenti untuk menyapa, timana neng ? Ieu teh sareng mahasiswa tea. Muhun buu ti Bandung, serempak menjawab. Ieu atuh bilih bade nyandak kanggo sayureun, (sambil memberikan lobak yang dipegangnya), teu sawios pa mangga kanggo bapa (#modus #padahal mah). Akhirnya setelah modus berhasil dilakukan lobak pun berpindah tangan ke kita. Pak Yusuf pun menyuruh kita singgah ke rumahnya. 

Singkat cerita, kita menutuskan untuk singgah ke rumah Pak Yusuf dengan modus tersembunyi untuk mendapatkan wortel #eh. #hahaha seperti yang telah dijanjikan oleh Pak Yusuf, neng ameng atuh ka bumi diditu aya wortel kanggo sayureun. #hahaha
Sambutan hangat dari pasangan yang sudah berusia lanjut itu membuat kita terus bercengkrama dengan mereka. Pak Yusuf bercerita,
”Neng, kapungkur mah sakola teh nganggo sapatu tina kresek, teu kawas barudak zaman ayeuna sararae sapatuna, (istrinya menambahkan) kapungkur mah sakola teh sieun da ngalewatan kebon awi hungkul nu bala, kapungkur mah bade kasakola teh ragu – ragu bade sakola atawa henteu soalna ngalewatan jalan anu bala, ka sakola na ge teu ngabring ngan saorang dua orang, paling seueur ge tiluan, kadang ibu oge berangkat ka sakola nyalira. Yeuh neng kantong buku teh ku kantong kresek, kresek tilas obat tanaman dianggo kanggo buku, disimpena teh didieu (sabari nunjukkeun tonggong anu diselipkeun kana lancingana) berangkat ka sakola teh lamun tos beres ngobatan tanaman, nembe berangkat, jauh neng sakola zaman baheula mah, ngalewatan kebon awi hungkul. Teu siga zaman ayeuna barudak sakola”.
Cerita singkat tersebut menggambarkan bahwa, perjuangan zaman dulu untuk mencari ilmu itu sungguh berat dan susah. Berbanding terbalik dengan zaman sekarang ini banyak jalan, banyak tempat, dan banyak cara untuk mencari ilmu. Dan terkadang majlis ilmu yang mendekati kita, tapi kenapa rasa malas itu selalu hinggap yang membuat gontai langkah kaki ini kaku untuk berjalan menuju majlis ilmu itu. Mencari ilmu adalah kewajiban kita sebagai manusia, sebagai salah satu cara menghindari diri dari para penjajah dunia.
Warnasari, 25 Agustus 2014
Edisi KKN Tematik 2014
Rabu, 27 Agustus 2014 0 komentar

Dibalik Keindahan Alam Pangalengan




Hamparan hijau menjadi pemandangan setiap hari, dinginnya alam menyelimuti kami setiap hari, kabut di pagi hari mulai mencerahkan penglihatan kami, datangnya mentari menghangatkan tubuh kami. Itulah hamparan alam daerah Pangalengan

Pergi ke kebun dan memerah sapi adalah aktivitas rutin yang biasa mereka lakukan setiap hari. Menjadi buruh tani adalah profesi mayoritas warganya. Kurang lebih Rp 17.000 mereka dapatkan perhari dari buruh tani yang diberikan setiap 10 hari sekali. Tak terkecuali para peternak sapi yang mayoritasnya mereka memiliki sapi perah sendiri. Pergi ke kebun adalah pemandangan yang biasa anak – anak lihat setiap hari dari Aktivitas orang tua mereka dan warga sekitar Desa Warnasari. Perkebunan sayuran dari mulai tomat, sawi, cabai, kentang, bawang daun, kebun teh, dan ternak sapi perah menjadi salah satu aktivitas produktif dari masyarakat pangalengan. Para petani yang setiap hari bekerja keras untuk menanam dan memanen hasil kebunnya kemudian dijual kepada Bandar yang akan mendistribusikannya ke pasar, para petani menjualnya dengan harga yang murah. Aktifitas bertani para warga berlangsung dari pagi sampai dengan Dzuhur. Tidak hanya orang tua tapi anak – anaknya juga diajarkan untuk bertani dan lebih memilih untuk bertani daripada sekolah dengan alasan tidak punya uang.
Dari aktifitas tersebut lah terbangun mindset bahwa sekolah itu tidak penting dan bahkan tidak dijadikannya sebagai prioritas selain karena faktor ekonomi tapi karena dorongan dari orang tua terhadap anak – anaknya yang menyuruh mereka bertani daripada sekolah meskipun tidak semua warganya, tetapi pemikiran tradisional itu setidaknya masih mewarnai warga. Jika tidak bertani selepas bersekolah di tingkat SD ataupun SMP mereka menikah, usia pernikahan dini nya masih terbilang tinggi. Oleh karena itulah sekolah atau pesantren gratis pun masih sepi peserta didik, padahal SDM yang ada itu jika dimanfaatkan dan diarahkan dengan baik maka akan menjadi manusia unggul yang lahir dari keterbatasan.

Alhamdulillah sekarang di kampung tersebut telah berdiri sebuah pesantren dari mulai PAUD, RA, MI, MD, dan Mts, bahkan sudah ada rencana untuk membangun SMA. Keterbatasan fasilitas, guru, dan bahan ajar tidak menyurutkan semangat mereka bagi yang memilih mencari ilmu daripada bekerja & menikah sebelum waktunya. Jarak yang jauh pun menjadi salah satu alasan gurunya jarang hadir untuk mengajar selain mungkin ada alasan lain seperti gaji yang tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka, jadi salah satu guru disana memilih untuk mencari tambahan jam mengajar di sekolah atau pesantren lain untuk mencukupi kebutuhan ekonomi tersebut. Itulah sedikit gambaran corak profesi dan aktivitas warga di Desa Warnasari, Kecamatan Pangalengan, sependek pengetahuan saya setelah berinteraksi dan bersosialisasi dengan masyarakat setempat.

Kamis, 07 Agustus 2014 0 komentar

My Life, My Adventure

Hari ini tanggal 27 Juni 2014 aku menemukan sebuah kisah anak negeri di sebuah daerah yang bernama Pangheotan, nama yang cukup terdengar asing namun disana banyak anak negeri yang berjuang untuk bisa sekolah. 


Menempuh jarak ke sekolah beberapa kilometer dengan menghabiskan waktu yang cukup banyak. Tidak mengurungkan niat mereka untuk bersekolah. Jalanan lumpur disaat hujan turun sudah menjadi hal biasa, ketika pulang sekolah teriknya mentari siang hari menyengat tubuh mereka, ketika kelelahan itu datang mereka memilih untuk diam sejenak. Untuk dapat sekolah mereka harus berangkat jam 6 pagi, karena jalan yang mereka lalui itu melewati jalanan panjang dengan pemandangan indah nan hijau sepanjang jalan yaitu hamparan kebun teh yang menyejukkan mata. Terasa indah di depan mata ketika melihat hamparan hijau kebun teh, namun jika jalanan becek maka sepatu mereka dibuka dan berjalan tanpa alas kaki. Persis sekali ketika saya bersama teman saya melewati perkebunan teh itu kondisi jalannya berlumpur karena baru tersirami air hujan kemarin sore. Tak hanya satu atau dua orang yang setiap pagi pergi ke sekolah dengan menempuh jarak yang jauh tapi hampir semua anak yang sekolah di perkampungan itu harus menempuh jarak yang jauh, dan apabila pulangnya mereka harus bisa melawan panasnya terik mentari di siang hari. Pergi ke sekolah bersama – sama itu yang biasa mereka lakukan setiap hari, karena kalau sendiri - sendiri takut karena kiri kanan itu semuanya perkebunan jauh dari rumah – rumah warga dan bahkan jalanan yang mereka lalui itu cukup curam dan terjal.
Nak, mudah – mudahan semua perjuanganmu untuk mencari ilmu dapat menjadi bekal untukmu di kemudian hari, semoga semua perjuanganmu untuk mencari ilmu kelak akan menjadi pahala bagi kedua orang tuamu. Setiap tetesan keringat InsyaAllah akan menjadi ladang pahala bagi kalian, engkau anak negeri yang terus berjuang demi menjalani kehidupan.
Maka nikmat tuhanmu yang mana lagikah yang engkau dustakan ?
Senin, 30 Juni 2014 2 komentar

Nilai Dimataku



Pertempuran Akhir Smester pun telah selesai dilaksanakan, meskipun begitu hasilnya belum dapat diketahui semuanya. Hasil belajar selama satu smester akankah berakhir dengan Nilai A, B, atau C, bahkan D atau E. nilai – nilai itu seakan – akan menghantui, padahal inti dari pembelajaran itu adalah apa yang sudah kita dapatkan dari mata kuliah tersebut dan menjelma ke dalam diri untuk melakukan perubahan karena Ilmu yang kita dapatkan.
Ada mata kuliah yang mendapatkan nilai A karena hasil dari membeli Buku yang telah ditulis oleh Dosen tersebut tanpa ada pembelajaran sebelumnya, bahkan Nilai A pun sudah ditangan. Dapat nilai D, padahal merasa diri sudah belajar semaksimal mungkin di mata kuliah itu dan akhirnya #jlebb kecewa pada mata kuliah tersebut, mendapatkan Nilai C pada mata kuliah tertentu begitu senangnya, karena niat dari awalnya asalkan Lulus dari mata kuliah tersebut, karena kalau sampai mengulang mata kuliah tersebut tak tahu apa lagi yang harus dilakukan karena seabreg tugas dan praktikum akan kembali menghantui. Diberi nilai standar yaitu nilai B, menyesal kenapa tidak mendapatkan A, dengan mata kuliah yang mempunyai 3 SKS nilai B dapat memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap jumlah Indeks Prestasi. Tidak dapat dipungkiri kekecewaan itu akan menghampiri ketika Nilai itu tidak sesuai dengan harapan.
Nilai secara kuantitatif mungkin memang penting karena setidaknya itu sedikit menggambarkan proses belajar kita, tapi apakah ketika nilai itu tinggi pada saat UTS atau UAS nya saja karena hasil mencontek itu tetap menjadi gambaran proses belajar seseorang ? lalu apakah itu akan tetap menjadi standar bahwa orang itu belajar, karena nilai Akhirnya “besar” padahal itu bukan hasil pemikiran dirinya sendiri. Lalu bagaimana proses belajar dari hari kehari, keaktifan mahasiswa di kelas, bukankah belajar itu merupakan suatu proses perubahan untuk menjadi lebih baik, dapatkah hanya di nilai dengan A, B, C, D, dan E karena melihat hasil akhir dengan nilai kuantitatif dari mata kuliah tersebut  paling tinggi.
Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tentu akan sangat berguna untuk melamar pekerjaan ke suatu perusahaan, bahkan itu akan menjadi kebanggaan bagi diri sendiri dan orang tua. Tapi apakah ketika cara mendapatkan dan penilaian yang dilakukan hanya melihat dari satu sudut pandang saja itu masih akan tetap menjadi standar kesuksesan seseorang dalam perkuliahannya ?
Mencari ilmu adalah salah satu kewajiban kita bagi setiap muslim. Terkadang orang itu hanya melihat hasil akhirnya saja tanpa melihat proses panjang yang terjadi sebelumnya, padahal yang terpenting sebelum hasil akhir itu keluar adalah proses panjang yang dilaluinya. Oleh karena itu Cintailah prosesnya, dan Hadapi, Hayati, dan Nikmati (HHN) selama proses berlangsung, meskipun Nilai yang diberikan manusia tidak sesuai dengan harapan kita, Masih ada Allah yang melihat usaha dan mengetahui niat kita selama menjalani proses tersebut. Ketika mengharapkan penilaian dimata manusia maka kekecewaan sungguh tiada hentinya akan menghampiri, karena sesungguhnya pengetahuan dan penglihatan manusia itu terbatas. Hanya Allah yang akan memberikan segala sesuatu tanpa batas. Karena Allah Maha Sempurna  :)
 
;